Postingan

Menampilkan postingan dengan label ottoman

PENAKLUKAN & PEMBANTAIAN THAIF 1803 : SEJARAH KELAM SAUDI

Pembantaian di kota Thaif pada tahun 1803 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Jazirah Arab, yang menandai puncak ekspansi militer dan ideologis aliansi antara Gerakan Wahhabi dan Dinasti Saud pertama (Emirat Diriyah).  Peristiwa ini menimbulkan trauma sosial dan keagamaan di wilayah Hijaz dan memperkuat citra gerakan Wahhabi sebagai kekuatan reformasi radikal yang sering kali ekstrem dalam pendekatannya terhadap umat Islam lain. *Latar Belakang* Gerakan Wahhabi-Saud Gerakan Wahhabi dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792), seorang ulama dari Najd yang menyerukan pemurnian tauhid dan menentang praktik keagamaan yang dianggap sebagai bid’ah dan syirik, termasuk tawassul ziarah kubur dan perayaan maulid.  Pada tahun 1744, ia bersekutu dengan Muhammad bin Saud, pemimpin Diriyah, untuk mendirikan negara yang berdasarkan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab.  Aliansi ini berkembang menjadi kekuatan militer-religius yang ekspansif. Tujuannya adalah menak...

57. PEMBERONTAK ARAB MENENTANG INGGRIS

Sharif Hussein bin Ali menolak Perjanjian Sykes-Picot (1916) dan Deklarasi Balfour (1917) karena keduanya berkhianat terhadap janji Inggris dalam McMahon–Hussein Correspondence. Penolakannya ini menjadi faktor penting hilangnya dukungan Inggris terhadapnya, yang kemudian beralih ke tokoh lain seperti Abdulaziz ibn Saud. *Penolakan terhadap Sykes–Picot Agreement (1916)* Isi Sykes–Picot: Perjanjian rahasia antara Inggris dan Prancis untuk membagi wilayah kekuasaan Ottoman di Timur Tengah menjadi zona pengaruh kolonial. 💥Prancis: Suriah dan Lebanon. 💥Inggris: Irak dan Palestina. Masalah: Ini bertentangan dengan janji Inggris kepada Sharif Hussein (1915–1916), yang menjanjikan kemerdekaan wilayah Arab sebagai imbalan atas pemberontakan melawan Ottoman. ➡️ Sharif Hussein merasa dikhianati karena ternyata tanah-tanah yang ia perjuangkan akan dibagi antara dua kekuatan Eropa.  *2. Penolakan terhadap Deklarasi Balfour (1917)* Isi Deklarasi: Inggris menyatakan dukungannya untuk pendirian ...

56. KEKUASAAN PEMBERONTAKAN ARAB DIGUNCANG IBNU SAUD

*Hubungan Ibn Saud dengan Inggris* *1. 📄 Perjanjian 1915 (Treaty of Darin)* Ditandatangani di Al-Qatif antara Ibn Saud dan perwakilan Inggris. Inggris mengakui wilayah kekuasaan Ibn Saud dan menjadikannya protektorat Inggris secara de facto. Sebagai imbalan, Ibn Saud berjanji tidak akan menyerang sekutu-sekutu Inggris di Teluk, seperti Kuwait dan Bahrain. *2. Bantuan Keuangan* Inggris memberi Ibn Saud subsidi tahunan selama dan sesudah PD I, kira-kira 5.000–10.000 poundsterling per bulan. Dana ini digunakan untuk mempersenjatai pasukannya dan mendanai kampanye militer melawan suku-suku lawan, termasuk Dinasti al-Rashid (yang pro-Ottoman) dan akhirnya Sharif Hussein dari Hijaz. *3. Persaingan dengan Sharif Hussein* Inggris lebih dahulu mendukung Sharif Hussein melalui McMahon-Hussein Correspondence (1915–1916) dan mendukung Pemberontakan Arab. Namun setelah Perang Dunia I, hubungan Inggris-Hussein memburuk. Inggris kemudian lebih mendekat ke Ibn Saud, terutama setelah ia merebut Hijaz ...

55. PERANG DUNIA I & PEMBERONTAKAN ARAB : CIKAL BAKAL SAUDI III

*1914: Perang Dunia I Meletus* Kekaisaran Ottoman bergabung dengan Jerman dan Austria-Hungaria. Inggris ingin melemahkan Ottoman dari dalam dengan mendorong pemberontakan Arab. Mereka melihat Sharif Hussein pemegang otoritas religius dan politik atas Mekkah sebagai tokoh yang mampu memimpin pemberontakan Arab. *Tujuan Inggris* -->Menumbangkan Ottoman dan memecah kekuasaan Islam pan-Sunni. -->Mengamankan pengaruh Inggris di kawasan Timur Tengah pasca-perang. -->Mencegah pengaruh Jerman dan Prancis di kawasan strategis. *Pemberontakan Arab (Arab Revolt) yang Dipimpin Sharif Hussein (1916–1918)* Pada masa Perang Dunia I, Sharif Hussein bin Ali, Amir Mekkah dan kepala Dinasti Hasyimiyah, memimpin pemberontakan Arab melawan Kekaisaran Ottoman. Pemberontakan ini dilatarbelakangi oleh korespondensi rahasia dengan Inggris, dikenal sebagai McMahon–Hussein Correspondence (1915–1916), yang menjanjikan dukungan Inggris bagi kemerdekaan negara Arab jika Sharif Hussein membantu mengguling...

54. SAUDI II : EMIRAT RIYADH

*EMIRAT RIYADH* Negara Saudi Kedua: Emirat Riyadh (1824–1891) Setelah keruntuhan Emirat Diriyah, Dinasti Saud sempat kehilangan kekuasaan. Namun pada tahun 1824, Turki bin Abdullah, keturunan Muhammad bin Saud, berhasil merebut kembali kota Riyadh dan mendirikan negara baru yang dikenal sebagai Emirat Riyadh atau Negara Saudi Kedua. Emirat ini mencoba melanjutkan visi ideologis dan politik dari pendahulunya. Emirat Riyadh mengalami pasang surut dalam konflik internal Dinasti Saud, dan terus-menerus menghadapi rival kuat dari utara, yaitu Dinasti al-Rashid dari Ha'il, yang didukung secara militer oleh Ottoman. Ketegangan meningkat sepanjang pertengahan abad ke-19, dan perang saudara di antara keturunan Saud memperlemah stabilitas negara. Pada tahun 1891, Emirat Riyadh jatuh setelah kekalahan militer oleh pasukan al-Rashid. Keluarga Saud melarikan diri ke pengasingan di Kuwait. Kekalahan ini menandai berakhirnya Negara Saudi Kedua, tetapi benih perlawanan tetap ada dan kelak tumbuh k...

53. SAUDI I : EMIRAT DIR'IYYAH

*BERDIRINYA EMIRAT DIRIYAH* Emirat Diriyah (1744–1818) adalah negara Islam pertama yang didirikan oleh Dinasti Saud, beraliansi dengan gerakan Wahhabi.  Ini merupakan cikal bakal berdirinya Arab Saudi modern. *1.Latar Belakang* Diriyah adalah sebuah kota kecil di wilayah Najd (sekarang di dekat Riyadh, Arab Saudi). Pada tahun 1744, terjadi aliansi historis antara Muhammad bin Saud (penguasa Diriyah) dan Muhammad ibn Abd al-Wahhab, seorang ulama reformis yang menyerukan pemurnian Islam dari praktik-praktik bid'ah dan syirik. Aliansi ini membentuk Emirat Diriyah, yang menjadi basis gerakan politik dan militer Wahhabiyah. 🔥Tujuan utama = Menyatukan Jazirah Arab di bawah Islam murni. 🔥Sistem pemerintahan= Emirat teokratik (penggabungan kekuasaan politik dan agama). 🔥Aliansi militer dan agama Dinasti Saud (politik) + Wahhabiyah (agama).  *2.Ekspansi dan Konflik* Emirat Diriyah berkembang pesat pada akhir abad ke-18. Menaklukkan wilayah luas termasuk Mekkah dan Madinah pada awal...

52. KONDISI GEOPOLITIK PRA-SAUDI

*KONDISI GEOPOLITIK PRA-SAUDI* *1. Struktur Politik Tradisional*: Suku, Emirat, dan Ulama Wilayah Jazirah Arab sebelum berdirinya Arab Saudi didominasi oleh sistem kesukuan yang longgar, di mana kekuasaan bersifat lokal dan tersebar. Di kawasan Najd, berbagai suku seperti Bani Tamim, Anaza, dan Shammar memegang kendali atas oase dan jalur perdagangan.  Di Hijaz, kota suci Mekkah dan Madinah berada di bawah kekuasaan Sharif Mekkah, yang merupakan keturunan Nabi Muhammad dan memiliki legitimasi religius. *2. Pengaruh Kekhalifahan Utsmaniyah*  Sejak abad ke-16, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) mengklaim kekuasaan nominal atas sebagian besar wilayah Hijaz, termasuk Mekkah dan Madinah. Namun, kontrol mereka lemah dan sering hanya simbolik. Sharif Mekkah berperan sebagai wali lokal yang setia secara nominal pada Istanbul tetapi praktis otonom. Di wilayah Najd dan Timur, pengaruh Ottoman hampir tidak ada. *3. Pengaruh Dinasti Syiah Safawi dan Konflik Chaldiran (1514)*.  Pada abad...