65. BLACK SEPTEMBER : KONFLIK PLO DENGAN YORDANIA
Black September
Tahukah Anda bahwa Palestine Liberation Organization (PLO) di bawah pimpinan Yasser Arafat pernah berperang melawan tentara Yordania di bawah pimpinan Raja Hussein? Itu terjadi di bulan September 1970, dan konflik-konfliknya berlanjut sampai Juli 1971.
Ceritanya, Yordania kehilangan kontrol atas Tepi Barat, setelah salah langkah mengikuti jejak Mesir menyerang Israel pada Perang Enam Hari di tahun 1967. Cerita detil soal perang ini akan dibahas terpisah.
Setelah Yordania kehilangan wilayah Tepi Barat, orang-orang Palestina berjuang melalui PLO yang dibentuk tahun 1964, mencoba mengusir Israel dari Tepi Barat dan Gaza. Gaza tadinya diduduki Mesir. Perang dengan Israel membuat mereka terdesak ke wilayah Yordania. Para pejuang PLO yang disebt fedayen membentuk kantong-kantong di wilayah Yordania, termasuk di sekitar Amman. Dari kantong-kantong itu mereka menyerang Israel di Tepi Barat.
Dalam sebuah serangan balasan Israel menggempur kamp pengungsi Palestina di Karameh. Tapi Israel dipukul mundur oleh gabungan antara PLO dan pasukan Yordania. Keberhasilan ini membuat pamor PLO meningkat, dan mereka makin percaya diri.
Kepercayaan diri yang berlebihan membuat mereka justru hendak menggigit pelindungnya. PLO mulai mengumandangkan ajakan untuk menggulingkan pemerintah keluarga Hashemite, yang dipimpin oleh Raja Husein. Dua kali terjadi upaya pembunuhan terhadap Husein. Husin mulai muak dan ingin mengusir PLO dari wilayahnya. Tapi ia masih menahan diri, takut mengjadapi sentimen Arab yang mendukung Palestina.
Kesabaran Husein habis ketika orang-orang PLO membajak 3 pesawat sipil, memaksanya mendarat di bekas pangkalan Inggris bernama Dawson Field di Zarqa, wilayah Yordania. Pembajak meledakkam pesawat sipil itu di bawah sorotan kamera media internasional.
17 September 1970 pasukan Yordania melancarkan serangan, mengepung lalu mendesak pada fedayen, memaksa mereka berlindung dalam kamp-kamp pengungsi Palestina. Eh, besoknya di bagian utara tentara Syiria ikut mendukung fedayen menyerang Yordania. Serangan itupun berhasil dipatahkan oleh Yordania. Tentara Syiria akhirnya mundur setelah sejumlah jet tempur Israel terbang rendah melintasi posisi mereka, menunjukkan dukungan terhadap Raja Husein.
Para fedayen itu kemudian dilucuti dan diusir keluar menuju Lebanon, melalui wilayah Syiria. Di sana mereka membuat perang makin membara.
Sisi lain dari konflik ini adalah terbunuhnya Perdana Menteri Yordania Wasfi Al-Tal saat menghadiri konferensi di Kairo, serta pembunuhan terhadap atlet olimpiade Israel di Munich. Semua dilakukan oleh Black September Organization, bagian dari PLO.
Begitulah Arab. Tanpa Israel pun mereka tetap berperang. Saling bunuh antar sesama Arab.
Lanjut
PLO dalam Perang Saudara di Lebanon
Setelah diusir dari Yordania tahun 1971 akibat peristiwa Black September orang-orang PLO membawa serta senjata ke Lebanon. Di sana, mereka menemukan tempat baru yang lebih bebas—negara kecil yang lemah dan terbagi oleh garis-garis sektarian.
Awalnya PLO disambut baik. Banyak orang Muslim Lebanon, terutama dari kalangan Sunni, menganggap perjuangan Palestina sebagai perjuangan bersama melawan Israel. Tapi lama-lama, seperti di Yordania, mereka bertindak seolah berada di wilayah sendiri. Kamp-kamp pengungsi Palestina berubah menjadi benteng bersenjata, dan Lebanon Selatan menjadi pangkalan peluncuran roket ke Israel.
Kehadiran PLO memperburuk keseimbangan politik yang sudah rapuh di Lebanon. Negara itu sejak lama hidup di atas kesepakatan rapuh antara komunitas Kristen Maronit, Muslim Sunni, Syiah, dan Druze. Ketika PLO mulai membangun pasukan dan menggandeng kelompok-kelompok kiri Muslim, kelompok Kristen merasa terancam. Dari situlah bara perang saudara mulai menyala.
April 1975, sebuah bus yang membawa warga Palestina diserang oleh milisi Kristen Phalange. Balasannya datang cepat: tembak-menembak pecah di seluruh Beirut. Negara ambruk, dan PLO resmi jadi pihak dalam perang saudara Lebanon. Mereka bersekutu dengan Koalisi Nasional Lebanon pimpinan Kamal Jumblatt, menyerang kubu Kristen kanan, dan menguasai sebagian besar Beirut Barat serta Lebanon Selatan.
Namun, kebebasan itu dibayar mahal. Israel menuduh Lebanon dijadikan basis teror. Suriah, yang ingin tetap jadi pengendali kawasan, ikut turun tangan. Tahun 1976 pasukan Suriah masuk Lebanon dengan dalih menstabilkan keadaan, tapi justru menembaki pasukan PLO. Arafat terjepit—diserang oleh sesama Arab, tapi juga tetap jadi sasaran Israel.
Tahun 1978, Israel melancarkan invasi pertamanya ke Lebanon Selatan, menghantam basis PLO. Empat tahun kemudian, invasi besar datang lagi. Beirut dikepung, dan Arafat dipaksa angkat kaki. PLO dievakuasi ke Tunis, meninggalkan Lebanon dalam reruntuhan dan kekosongan kekuasaan yang kelak diisi oleh Hizbullah.
Begitulah kisahnya: di Yordania mereka berperang dengan raja Arab; di Lebanon mereka menyalakan perang saudara sesama Arab. Dalam setiap tempat yang mereka pijak, semangat melawan Israel justru menjelma menjadi konflik di antara bangsa sendiri.

Komentar
Posting Komentar