63. Sejarah Merah Kelabu : Kemunculan Triumvirat PKI Pasca Pemberontakan PKI 1948
Kemunculan Triumvirat PKI (Aidit, Lukman, Njoto)
Pasca kegagalan Pemberontakan PKI 1948, bukan berarti organisasi ini mati. Karena memang pemerintah tidak langsung membekukan PKI. Sebenarnya Hatta pernah mengusulkan agar PKI dibubarkan dan dilarang, tapi usul tersebut tidak disetujui.
Pemberontakan berdarah PKI hingga dua kali, yaitu tahun 1926 dan 1948 tidak diambil pelajaran, bahwa PKI tidak bisa diberi ruang di bumi Indonesia. Bahwa ideologi komunis yg haus darah tidak bisa diberi ampun. Terbukti di tahun 1965 PKI melakukan pemberontakan yg ketiga kalinya.
Pasca kematian Musso dan Amir Sjarifuddin, muncullah tokoh-tokoh muda PKI yg sangat militan. Mereka adalah Aidit, Lukman, Njoto. Trio PKI inilah yg memegang kendali penuh arah gerak partai.
Aidit berasal dari Belitung. Usianya masih sangat muda, tapi dia sangat cerdas dan militan. Dia menuliskan banyak buku sebagai pedoman komunisme di Indonesia. Aidit berjuang mengarahkan PKI sesuai "arah baru Musso". Aidit meneruskan kebijakan Musso dalam memimpin partai. Aidit juga rutin berkirim surat dengan Stalin. Meminta masukan Stalin dalam menentukan langkah-langkah PKI.
Disamping meminta arahan Soviet, Aidit juga berkiblat ke China yg lebih revolusioner. Kemudian Aidit berusaha menggabungkan komunis soviet dan china di Indonesia.
Pada Januari 1951 dipilih 5 anggota politbiro baru. Mereka adalah Aidit, Lukman, Sudisman, dan Alimin. Hanya kurang dari setahun Aidit sudah sangat berpengaruh di PKI. Perlahan tapi pasti kelompok tua PKI disingkirkan. Kelompok tua PKI yaitu Alimin, Wikana, Tan Ling Djie tersisih dg rapi.
Di tahun 1951 itu, Aidit baru berusia 27 tahun, Lukman 30 tahun, dan Njoto 25 tahun. Trio pemuda PKI ini menjadi darah segar dalam pertai. tadinya mereka berada di bagian agitasi dan propaganda. Mereka menerbitkan majalah Bintang Merah. Majalah ini menjadi corong penting berdenyutnya PKI.
Meskipun masih muda, tapi Aidit berhasil mengambil kepemimpinan. Ada beberapa sebab Aidit tak mendapatkan perlawanan dari sesama anggota partai. Pertama, mayoritas anggota PKI di bawah Aidit baru bergabung setelah tahun 1951. Kedua, anggota yg hendak bergabung dg PKI disaring dan diamati dg cermat. Ketiga, setiap anggota yg mendapatkan promosi harus mendapatkan dukungan dari seniornya. Semua ini terjadi dalan struktur partai khas komunis, baik di Soviet maupun China, yang menggunakan sentralisme demokrasi. Dengan sistem yg tersaring seperti itu amat kecil kemungkinan munculnya elemen yg mengganggu dari dalam partai. PKI menentukan haluannya untuk meneruskan "Djalan Baru Musso".
PKI rutin berkomunikasi dg Soviet dan China. Hal ini bisa diketahui dari dokumen internal yg telah dirilis pemerintah Soviet puluhan tahun kemudian.
Hubungan intens dg Soviet bisa diketahui dari kader PKi bernama Muriono yg mengajukan draft proposal program PKI kepada Stalin. Rencana yg termaktub dlm proposal tsb diantaranya menghapus dominasi Belanda, Amerika, Inggris serta kaki tangan mereka. Dan yg terpenting PKI harus menciptakan front persatuan nasional yg terdiri dari buruh dan tani yg dipimpin oleh kelas pekerja. Termasuk dlm front tersebut borjuis kecil, borjuis nasional.
Penguasaan front nasional akan mengisolasi lawan sebanyak mungkin. Stalin menekannkan pentingnya menguasai metode legal dan terutama sekali mengambil keuntungan dan kesempatan ikut parlemen. Stalin tidak menyetujui perjuangan bersenjata krn situasi dan kondisi belum memungkinkan. Juga karena faktor geografis Indonesia berupa kepulauan. Stalin merekomendasikan perjuangan kelas pekerja di perkotaan dan pusat industri.
✍️ Widi Astuti
(Pegiat Dakwah Lereng Merapi - Merbabu)
Komentar
Posting Komentar