5. INTERMEZZO: MEMAHAMI WATAK ORANG PALESTINA
Berikut arsip sepintas dari obrolan 2 anggota grup WA yakni Fathur Rohman dan Abu Zhehir
Fathur Rohman : Pernah denger dari mantan wartawan perang senior, Faisal Assegaf, disuruh membayangkan kita di posisi warga Palestina.
Fathur Rohman : Pernah denger dari mantan wartawan perang senior, Faisal Assegaf, disuruh membayangkan kita di posisi warga Palestina.
Tanahnya dijajah, eh tiba-tiba datang sekelompok negara tetangga yang mencoba menengahi lalu menginisiasi pembagian tanah antara penjajah dengan Palestina yang terjajah (two state solution) dan menyebarkan ke seluruh dunia agar meyakini bahwa proposal itu adalah solusi terbaik padahal solusi itu tanpa restu rakyat.
Kalo di Indonesia semacam pengalaman Perjanjian Linggarjati dan Renville yang akhirnya membatasi wilayah Republik Indonesia hanya Sumatera, Jawa, dan Bali lalu berkurang lagi tinggal Jawa dan Sumatera
Abu Zhehir :
Kalo menurut penjelasan prof Edward Said di buku Question of Palestine, mereka sadar sendiri melalui sekelompok kecil kalangan terpelajar di kamp pengungsian. (Latar waktu masih dekade 1950an)
Saat itu kan ada UNRWA. Nah, kalangan terpelajar kayak Arafat & Kanafani ini melihat kehadiran serta ketergantungan terhadap UNRWA dan ketidakpastian masadepan Palestina, malah akan membuat martabat Palestina jatuh, Palestina di mata dunia hanya akan dianggap sebagai bangsa pengungsi tanpa negara, dan persepsi dunia terkait Palestina hanya akan disetir lebih jauh oleh diskursus Zionisme
Nah, melalui kesadaran ini, mereka mengumpulkan & membentuk gerakan skala kecil untuk menyebarkan kesadaran akan kemerdekaan melalui sekolah-sekolah di kamp pengungsian. Biar anak-anak yang lahir di pengungsian ini kedepannya gak minder akan bangsanya
Fathur Rohman : Berarti harus memahami juga Palestina sebagai bagian dari Bangsa Arab ya yang punya watak memegang tinggi harga diri dan cinta tanah air yang begitu besar
Abu Zhehir : Betul, supaya memahami bagaimana mereka ini tetap gigih, meskipun sudah menghadapi genosida & dehumanisasi, sebagaimana suku Indian di Amerika dulu
Komentar
Posting Komentar